Poros Perlawanan vs Aliansi Barat Titik Didih Baru di Timur Tengah Pasca Serangan 28 Februari
Politik 03 Mar 2026

Poros Perlawanan vs Aliansi Barat Titik Didih Baru di Timur Tengah Pasca Serangan 28 Februari

Redaksi
03 Mar 2026
163 dibaca
kuantitas dan teknologi rudal balistik serta drone. Rudal hipersonik Khorramshahr-4 dan drone Shahed-136 menjadi senjata andalan mereka untuk perang asimetris, mampu mencapai target di seluruh kawasan Teluk.

Timur Tengah, 3 Maret 2026 — Dunia kembali menyaksikan babak baru konflik geopolitik yang paling mencemaskan dalam satu dekade terakhir. Apa yang selama ini dikhawatirkan sebagai eskalasi regional, kini telah menjadi kenyataan pahit. Sejak 28 Februari 2026, gelombang serangan besar-besaran telah mengubah peta konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS), dari yang semula perang proksi menjadi bentrokan militer terbuka.

gamblang.com merangkum situasi terkini dari berbagai sumber, menyajikan gambaran utuh mengenai peran aktor kunci, dampak global, serta respons internasional yang menentukan arah baru Timur Tengah.

Operasi Epic Fury dan Gugurnya Seorang Pemimpin

Pemicu eskalasi terbesar adalah serangan gabungan AS-Israel yang dilancarkan pada akhir pekan lalu. Operasi militer yang oleh sumber militer AS disebut sebagai Operation Epic Fury ini menargetkan lebih dari selusin titik strategis di wilayah Iran, termasuk fasilitas nuklir, pangkalan militer, dan pusat komando di ibu kota Teheran.

Serangan ini mencatatkan sejarah kelam dalam politik Iran. Media pemerintah Iran secara resmi mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei gugur dalam serangan tersebut, bersama dengan sejumlah anggota keluarganya. Kantor berita Fars, yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam IRGC, melaporkan bahwa kediaman Khamenei di kawasan Pasteur, Teheran, menjadi salah satu sasaran rudal.

Konfirmasi ini mengakhiri spekulasi yang beredar beberapa jam sebelumnya dan memicu masa berkabung nasional selama 40 hari di Iran. Televisi pemerintah menayangkan foto-foto Khamenei dengan lantunan ayat suci Al-Quran, sementara spanduk hitam tanda duka terpasang di sudut layar.

Pembalasan Janji Keras Iran: Rudal Hipersonik Menghujani Pangkalan AS

Seperti yang telah dijanjikan sebelumnya, Iran tidak tinggal diam. Beberapa jam setelah serangan pertama, Korps Garda Revolusi Iran IRGC melancarkan serangan balasan besar-besaran dengan nama sandi Janji Keras.

Dalam sebuah pernyataan, IRGC mengonfirmasi bahwa mereka telah menembakkan ratusan rudal balistik hipersonik, termasuk jenis Kheibar, Emad, dan rudal jelajah, menuju wilayah Israel dan sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk.

Sasaran strategis yang dilaporkan terkena serangan meliputi:

Markas Besar Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain.

Pangkalan Militer Al Udeid di Qatar, yang merupakan fasilitas militer AS terbesar di Timur Tengah.

Berbagai fasilitas militer AS lainnya di Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Arab Saudi.

Wilayah pendudukan Israel, termasuk area yang disebut sebagai pusat militer dan keamanan di Tel Aviv.

IRGC mengklaim bahwa serangan mereka berhasil menembus sistem pertahanan udara Iron Dome milik Israel dan menimbulkan kerusakan signifikan. Saksi mata di Dubai dan Doha melaporkan mendengar ledakan keras dan melihat rudal melintas di langit.

Peta Kekuatan: Superioritas Teknologi vs Strategi Asimetris

Konflik ini mempertemukan dua kekuatan militer teratas dunia dengan pendekatan yang sangat berbeda. Berdasarkan data Global Firepower Index 2026, AS menduduki peringkat kekuatan militer nomor satu dunia, diikuti Israel di posisi 15, dan Iran di posisi 16.

Keunggulan teknologi AS dan Israel, seperti jet tempur siluman F-35, menjadi ujung tombak dalam serangan udara ke Iran. Namun, superioritas udara ini harus berhadapan dengan strategi perang asimetris Iran. Sumber: Disway.id 

Amerika Serikat mengandalkan superioritas teknologi absolut dengan armada lebih dari 13.000 pesawat, termasuk jet tempur generasi kelima F-22 dan F-35, serta kemampuan proyeksi kekuatan jarak jauh melalui carrier strike groups.

Israel fokus pada superioritas udara regional dengan armada F-35 dan F-15 yang modern, ditunjang sistem pertahanan berlapis seperti Iron Dome.

Iran, di sisi lain, mengkompensasi kelemahan armada udaranya yang usang dengan mengandalkan kuantitas dan teknologi rudal balistik serta drone. Rudal hipersonik Khorramshahr-4 dan drone Shahed-136 menjadi senjata andalan mereka untuk perang asimetris, mampu mencapai target di seluruh kawasan Teluk.

Dampak Global: Selat Hormuz Membara, Ekonomi Dunia Tercekat

Di luar medan perang, dampak konflik ini langsung terasa di seluruh dunia. Selat Hormuz, jalur laut yang dilalui sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia dan 20-25 persen perdagangan LNG global, kini berada dalam bayang-bayang blokade. Setiap gangguan di jalur ini dapat mendorong kenaikan harga energi internasional yang tak terhindarkan.

Akademisi Hubungan Internasional Universitas Mulawarman, Aisyah, menilai bahwa dampak paling cepat dari konflik ini adalah lonjakan harga minyak. Indonesia sebagai negara pengimpor minyak pasti ikut terdampak. Tekanan terhadap subsidi energi berpotensi meningkat dan ongkos distribusi barang naik, memicu inflasi, ujarnya kepada Kompas.com.

Dunia penerbangan juga ikut lumpuh. Sejumlah maskapai internasional seperti Etihad Airways, Qatar Airways, Singapore Airlines, dan Malaysia Airlines terpaksa membatalkan atau mengalihkan rute penerbangan mereka yang melewati wilayah konflik. Qatar, UEA, Bahrain, Kuwait, Irak, dan Suriah dilaporkan telah menutup ruang udara mereka untuk penerbangan sipil demi alasan keselamatan.

Respons Global: Kutukan dan Imbauan Damai

Dari Indonesia, respons keras disampaikan oleh tokoh nasional. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PBNU, Yahya Cholil Staquf, mengutuk keras serangan AS-Israel terhadap Iran. Beliau menyebut tindakan tersebut sebagai brutal yang merusak tatanan internasional dan berpotensi memicu kebangkitan radikalisme.

Kita semua paham itu kemarahan, namun apapun, serangan balasan Iran justru akan memperburuk situasi dan menyulitkan upaya resolusi, imbuh Gus Yahya, mengomentari serangan balasan Iran yang meluas hingga ke negara-negara Teluk.

Presiden AS Donald Trump, di sisi lain, menegaskan bahwa operasi militer akan berlangsung singkat. Prosesnya selalu empat minggu. Sekuat apa pun negara itu, ini AS negara besar, akan memakan waktu empat minggu atau kurang, ujar Trump dalam pernyataannya, seraya memprediksi kemenangan cepat bagi koalisi AS-Israel.

Situasi per Selasa, 3 Maret 2026, menunjukkan ketegangan yang belum mereda. Iran telah menyatakan kesiapannya untuk perang jangka panjang, sementara AS dan Israel terus mengkonsolidasikan kekuatan mereka di kawasan. Dunia kini menanti langkah selanjutnya dari Poros Perlawanan dan Aliansi Barat, dengan taruhan stabilitas kawasan dan ekonomi global yang tak pernah setinggi ini sebelumnya. gamblang.com akan terus memantau perkembangan situasi ini.

 

Bagikan:

Berita Terkait